TANGERANGBERKABAR.ID – Air mata mungkin tak tampak jatuh di pipi sang kakek, namun beban di pundaknya terasa begitu berat saat ia dipaksa berdiri lemas di hadapan kamera. Seorang pria tua penjual es kue jadul baru-baru ini menjadi korban fitnah keji yang dilakukan oleh oknum aparat dan warga, hanya karena tekstur dagangannya yang kenyal dianggap menyerupai spons pencuci piring.
Dalam sebuah video yang sempat viral dan memicu kemarahan publik, kakek tersebut tampak dikerumuni oleh beberapa pria, termasuk oknum berseragam. Dengan nada menuduh, mereka memeras es kue berwarna merah muda tersebut di depan kamera, mencoba membuktikan bahwa makanan itu adalah benda mati yang tak layak konsumsi.
“Ini spons, ini kalau dibakar meleleh,” ujar salah satu pria dalam video tersebut dengan penuh keyakinan, tanpa sedikit pun memberi kesempatan bagi sang kakek untuk membela diri.
Sang kakek hanya bisa terdiam, tertunduk lesu di bawah topi rimbanya. Wajah rentanya menyimpan kesedihan yang mendalam; ia yang hanya mencoba menyambung hidup dengan berjualan jajanan murah meriah, justru dituduh meracuni anak-anak demi keuntungan yang tak seberapa.
Setelah video tersebut menyebar dan menghancurkan reputasi serta perasaan sang kakek, fakta sebenarnya baru terungkap. Hasil pengujian menunjukkan bahwa es kue tersebut 100% layak konsumsi. Tekstur yang dituduh sebagai “spons” tersebut tak lain adalah karakteristik khas dari kue jadul berbahan dasar tepung hunkue yang dibekukan—sebuah resep tradisional yang mungkin sudah asing bagi mereka yang lebih memilih menghakimi daripada bertanya.
Sontak, netizen pun bereaksi keras. Banyak yang mengecam tindakan oknum tersebut yang dianggap bertindak sewenang-wenang tanpa melakukan uji laboratorium terlebih dahulu.
“Kebayang gak gimana hancurnya hati kakek itu? Udah capek keliling jualan, bukannya dibantu malah difitnah dan dipermalukan di depan orang banyak,” tulis salah satu netizen di kolom komentar.
Kasus ini bukan hanya soal kesalahan identifikasi makanan, melainkan soal bagaimana martabat seorang rakyat kecil begitu mudahnya diinjak-injak demi konten atau rasa aman yang semu. Di usia senjanya, kakek ini harus menanggung trauma psikis dan kerugian materiil akibat tuduhan yang sama sekali tidak berdasar.
Kini, meski namanya sudah dibersihkan, luka di hati sang kakek mungkin tak akan sembuh secepat video klarifikasi yang beredar. Publik menuntut adanya permintaan maaf secara terbuka dari pihak-pihak yang telah mempermalukannya, serta dukungan bagi sang kakek agar ia bisa kembali berjualan dengan tenang.


Tinggalkan Balasan