TANGERANGBERKABAR.ID- Di ketinggian Lembang yang dingin, di mana kabut seringkali menyelimuti kompleks Sespim Lemdiklat Polri, Kompol Arief Nazaruddin Yusuf, S.H., S.I.K., M.H. kini tengah menempuh babak baru dalam pengabdiannya. Alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 2009 yang dikenal dengan nama angkatan Ananta Hira ini, sedang menempa diri dalam Pendidikan Sespimmen Polri Dikreg Ke-66.

Bagi Arief, pendidikan ini bukan sekadar syarat formalitas kenaikan pangkat, melainkan sebuah “jeda strategis” untuk merumuskan ulang visi kepemimpinan Polri di masa depan.

Sebelum mengenakan seragam siswa Sespimmen, nama Arief Nazaruddin adalah jaminan ketenangan di wilayah hukum Polda Banten. Rekam jejaknya adalah perpaduan antara ketajaman insting detektif dan kematangan manajerial.

Sebagai Kasat Reskrim Polresta Tangerang, Arief dikenal sebagai sosok yang “berbicara melalui data.” Ia tidak menyukai spekulasi. Di tangannya, berbagai kasus kriminalitas menonjol di wilayah industri tersebut diselesaikan melalui pendekatan scientific crime investigation. Ia adalah tipe pimpinan yang lebih memilih berada di gang-gang sempit untuk olah TKP daripada hanya menerima laporan di balik meja.

Kematangannya semakin teruji saat ia dipercaya menjabat sebagai Wakapolres Cilegon. Di kota yang menjadi obyek vital nasional dengan pelabuhan internasional dan industri baja raksasa, Arief berperan sebagai “jangkar” organisasi. Ia memastikan harmoni antara internal kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang tinggi.

Sebagai bagian dari angkatan Ananta Hira (2009), Arief membawa filosofi “Lembing yang Tak Pernah Berhenti”. Dalam setiap penugasannya, ada semangat untuk terus bergerak maju dan berinovasi.

“Seorang pemimpin Polri masa kini harus memiliki dua sisi mata uang: ketegasan dalam penegakan hukum dan kelembutan dalam pelayanan masyarakat,” ungkapnya dalam satu kesempatan diskusi.

Keseimbangan inilah yang ia bawa ke bangku Sespimmen. Di sana, ia mengonversi pengalaman lapangan yang keras menjadi kajian-kajian strategis untuk memperkuat postur Polri yang “Presisi” (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan).

Dikenal dekat dengan awak media dan akrab dengan anggotanya, Arief adalah prototipe perwira modern yang sadar akan pentingnya komunikasi publik. Ia memahami bahwa di era digital, kepercayaan masyarakat adalah mata uang yang paling berharga bagi institusi Polri.

Di sela-sela kesibukan pendidikannya, Arief tetap dikenal sebagai sosok yang religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga. Baginya, integritas seorang polisi dimulai dari bagaimana ia menjaga nilai-nilai di dalam rumahnya sendiri.

Lulus dari Sespimmen Dikreg Ke-66 nantinya, Kompol Arief Nazaruddin Yusuf diprediksi akan mengemban amanah yang lebih besar. Dengan bekal pengalaman sebagai Kasat Reskrim dan Wakapolres, ia siap kembali ke lapangan—bukan lagi sekadar sebagai pelaksana, melainkan sebagai konseptor keamanan yang visioner.

Publik menanti, kejutan dan inovasi apa lagi yang akan dibawa oleh sang perwira Ananta Hira ini demi menjaga marwah institusi dan keamanan negeri.

(Deri)