TANGERANGBERKABAR.ID – Kontras yang menyayat hati tersaji di jantung pemerintahan Kecamatan Tigaraksa. Di saat gedung Kantor Kecamatan Tigaraksa sedang sibuk bersolek dengan proyek pembangunan dan renovasi, tak jauh dari sana, Nenek Mursani (75) harus bertaruh nyawa di dalam rumah yang nyaris roboh.

WhatsApp Image 2026 02 16 at 21.10.25 2 e1771253289686

Kondisi ini memicu reaksi keras dari aktivis senior Kabupaten Tangerang, Alamsyah. Ia menilai ada ketimpangan prioritas yang luar biasa antara pembangunan infrastruktur kantor dengan pelayanan kemanusiaan bagi warga miskin.

Berdasarkan pantauan lapangan, Kantor Kecamatan Tigaraksa saat ini tengah dalam proses pengerjaan fisik. Terlihat material bangunan dan perancah besi (steger) terpasang di area depan kantor tersebut. Namun, pemandangan kontras ditemukan di kediaman Nenek Mursani di Desa Matagara yang hanya ditopang tiang bambu dan ikat tali.

“Sangat ironis. Kantornya dibangun megah, dicat rapi, tapi pejabatnya seolah tutup mata pada warga yang rumahnya mau rubuh. Apakah fasilitas mewah lebih penting daripada nyawa rakyat?” semprot Alamsyah saat melihat progres pembangunan kantor tersebut, Senin (16/2/2026).

WhatsApp Image 2026 02 16 at 20.54.23 1 2 e1771253312186

Alamsyah menyentil keras Camat Tigaraksa, Cucu Abdurrosyied, yang hingga kini masih bungkam terkait nasib Nenek Mursani. Ia mempertanyakan nurani pejabat yang bisa menganggarkan renovasi gedung, namun tampak kesulitan memperjuangkan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi warga yang mendesak.

“Jangan sampai gedung kecamatan makin cantik, tapi empati pejabatnya makin keropos. Nenek Mursani dan cucunya tidur di bawah ancaman kabel maut dan atap lapuk. Kalau Camat bisa mengawal pembangunan kantor ini, seharusnya dia lebih bisa menjemput bola untuk bedah rumah warganya,” tegas Alamsyah.

Kondisi rumah Nenek Mursani memang sudah masuk kategori darurat, dengan atap tanpa plafon, kabel berseliweran, hingga sanitasi yang tidak manusiawi. Alamsyah menuding birokrasi di Tigaraksa sedang ‘sakit’ karena lebih mendahulukan estetika bangunan daripada keselamatan jiwa.

Hingga berita ini diturunkan, pengerjaan di Kantor Kecamatan Tigaraksa masih terus berjalan. Sementara itu, Nenek Mursani masih terus menanti keajaiban di bawah reruntuhan rumahnya yang hanya tinggal menunggu waktu untuk ambruk.

(Der/San)