TANGERANGBERKABAR.ID – Di usia senjanya yang menginjak 75 tahun, Nenek Mursani harus hidup dalam kecemasan luar biasa. Warga Kampung Matagara, Desa Matagara, Kecamatan Tigaraksa ini mendiami hunian yang kondisinya sangat memprihatinkan dan mengancam nyawa.

WhatsApp Image 2026 02 16 at 20.54.25

Pantauan di lokasi pada Sabtu (14/2/2026) menunjukkan potret kemiskinan yang nyata. Rumah yang ia tinggali bersama cucu perempuannya hanya berdiri berkat bantuan tiang-tiang bambu seadanya dan ikatan tali kulit bambu.

Melangkah masuk ke dalam rumah Nenek Mursani, aroma lembap tanah langsung menyergap indra penciuman. Pandangan mata seketika tertuju ke arah langit-langit yang melompong tanpa plafon. Di sana, struktur atap tampak begitu rapuh; hanya mengandalkan kayu-kayu tua yang sudah melengkung dan nyaris patah, seolah hanya menunggu waktu untuk ambruk menimpa penghuninya.

WhatsApp Image 2026 02 16 at 20.54.24

Kengerian tidak berhenti di situ. Di antara sela-sela kayu penyangga yang lapuk, untaian kabel listrik terlihat berseliweran tanpa pelindung, bergelantungan rendah di atas kepala. Kondisi ini menciptakan risiko arus pendek yang mematikan, terlebih saat hujan turun. Ketika langit mulai gelap, Nenek Mursani harus sigap menata ember dan wadah di berbagai titik untuk menampung kucuran air yang menembus atapnya yang bolong-bolong.

Kondisi lantai pun tak kalah memprihatinkan. Lantai semen yang seharusnya menjadi alas pijak kini sudah hancur tak berbentuk, menyatu dengan tanah merah yang becek dan licin setiap kali air hujan merembes masuk.

WhatsApp Image 2026 02 16 at 20.54.23 1

Namun, pemandangan paling menyayat hati terlihat saat awak media menengok ke area sanitasi. Kamar mandi yang digunakan oleh nenek berusia 75 tahun dan cucu perempuannya itu jauh dari kata manusiawi. Hanya disekat oleh bilik-bilik transparan yang sudah robek dan penuh tambalan seadanya, privasi penghuni praktis tidak terlindungi. Area yang lembap dan kotor itu lebih menyerupai rongsokan daripada sebuah tempat untuk membersihkan diri, mencerminkan betapa daruratnya standar kesehatan di hunian tersebut.

Meski sudah diajukan untuk mendapatkan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) melalui Kecamatan Tigaraksa, hingga kini belum ada titik terang. Pihak Pemerintah Desa Matagara pun disebut belum pernah meninjau langsung kondisi warganya yang renta ini.

“Saudara yang bantu, karena katanya emang rumah ini udah mengkhawatirkan gitu. Katanya si ya gitu, gak ada kabar ya mungkin ditolak atau gimana gitu kurang tau” ungkap nenek Mursani.

Harapan Mursani sederhana: ia ingin memberikan tempat berteduh yang sehat dan aman bagi cucunya yang masih duduk di bangku SMP.

“Pengennya ya ada bantuan dari pemerintah, seenggaknya biar nyaman dan aman. Kalo saya kasian sama cucu masih kecil, pastinya pengen rumah yang sehat” ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan, Camat Tigaraksa, Cucu Abdurrosyied, belum memberikan tanggapan terkait mekanisme pengajuan maupun solusi atas kondisi rumah Nenek Mursani saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.

(Der/San)