TANGERANGBERKABAR.ID – Di balik riuhnya deru mesin pabrik dan beton-beton pencakar langit yang mulai merayap di cakrawala Kabupaten Tangerang, ada seorang perempuan yang memilih untuk tetap “membumi”. Intan Nurul Hikmah tidak sedang membangun menara gading. Sebaliknya, ia sedang sibuk menenun kembali retakan-retakan sosial dengan cara yang sangat personal: mendengarkan.
1.Bukan Sekadar Pewaris Takhta
Banyak yang mengenal Intan karena nama besar keluarganya, namun di lapangan, narasi itu luruh. Ia dikenal bukan karena siapa ayahnya atau kakaknya, melainkan karena seberapa sering sepatunya kotor terkena lumpur desa. Pengalaman dua dekade di kursi legislatif telah menempanya menjadi politisi yang fasih membaca data, sekaligus manusia yang peka membaca air mata.
Bagi Intan, menjadi Wakil Bupati bukan soal jabatan, melainkan tentang “hak bicara” bagi mereka yang selama ini hanya menjadi penonton pembangunan.
2. Diplomasi di Meja Makan dan Posyandu
Jika Anda mencari Intan, jangan hanya mencarinya di balik meja kayu jati yang megah. Ia lebih sering ditemukan di:
- Teras Rumah Warga: Tempat ia membedah masalah rutilahu (rumah tidak layak huni) sambil menyeruput teh hangat bersama warga.
- Lorong Puskesmas: Memastikan setiap ibu hamil mendapatkan hak gizinya demi memutus rantai stunting.
- Sentra UMKM: Menjadi “marketing” bagi produk lokal agar mampu menembus pasar digital.
“Kebijakan yang paling hebat sekalipun akan lumpuh jika tidak punya jiwa. Dan jiwa dari kebijakan itu ada pada senyum masyarakat yang merasa terbantu,” tutur Intan.
3.”Sentuhan Ibu” dalam Birokrasi
Intan membawa gaya kepemimpinan yang sering disebut sebagai empathetic leadership. Di tangannya, birokrasi yang biasanya kaku dan berjarak, dipaksa untuk lebih fleksibel. Ia mengintegrasikan teknologi dengan empati; media sosialnya menjadi “kotak saran raksasa” tempat warga bisa mengadu tanpa protokol yang berbelit.
Fokusnya jelas: Pendidikan dan Ketahanan Keluarga. Ia percaya bahwa jika seorang ibu berdaya dan seorang anak bersekolah, maka separuh masalah daerah sudah selesai.
4.Menantang Arus Modernitas
Tangerang sedang bertransformasi menjadi kota metropolitan. Di tengah arus itu, Intan berdiri sebagai penjaga keseimbangan. Ia memastikan bahwa di antara gemerlap mal dan pusat bisnis, identitas lokal dan kesejahteraan rakyat kecil tidak tergusur.
Ia bukan sekadar wakil pemimpin; ia adalah jembatan. Jembatan yang menghubungkan visi besar pemerintah dengan realita di meja makan rakyatnya.
(Deri)


Tinggalkan Balasan