TANGERANGBERKABAR.ID – Bagi Karno dan 80 warga lainnya di Villa Tomang Baru, suara rintik hujan di malam hari bukan lagi alunan pengantar tidur, melainkan alarm tanda bahaya. Pada Minggu malam (11/01/2026), kekhawatiran itu kembali menjadi nyata saat air setinggi lutut perlahan merangkak masuk ke ruang tamu mereka.

Dengan penerangan seadanya, warga berjibaku menyelamatkan alat elektronik dan dokumen berharga. Berdasarkan pantauan, 23 rumah kini terendam air dingin yang membawa lumpur. Fasilitas ibadah pun kini beralih fungsi menjadi tempat berteduh sementara bagi warga yang rumahnya tak lagi layak huni.

Warga menilai penanganan banjir selama ini hanya bersifat “tambal sulam”.

Mereka menduga bahwa buruknya drainase dan pengelolaan Situ Gelam adalah biang keladi yang belum tersentuh solusi konkret.

“Kami lelah. Kami butuh penanganan yang serius dan berkelanjutan, bukan sekadar kunjungan saat banjir datang,” tegas salah seorang warga.

Harapan warga hanya satu: pemerintah daerah tidak hanya melihat ini sebagai angka statistik bencana, tetapi sebagai masalah hidup mati yang harus segera dituntaskan melalui revitalisasi sistem air dan drainase yang modern.

(Der/San)