TANGERANGBERKABAR.ID — Suara sirene ambulans dan perahu karet memecah kesunyian di Kecamatan Kosambi sejak Senin pagi (12/1/2026). Setelah tiga hari diguyur hujan tanpa henti, Kabupaten Tangerang kini sedang berjuang melawan luapan air yang merendam belasan kecamatan.
Kosambi menjadi “titik nol” perjuangan kali ini. Wilayah yang biasanya sibuk itu berubah menjadi hamparan air setinggi pinggang orang dewasa.
1. Kosambi dalam Kepungan Air
Data dari BPBD menunjukkan bahwa wilayah pesisir ini mengalami dampak paling hebat. Di desa-desa seperti Salembaran Jati, Dadap, dan Jati Mulya, air naik dengan cepat mencapai ketinggian 80 sentimeter.
“Senin kemarin adalah puncaknya. Petugas kami bergerak cepat menembus genangan untuk mengevakuasi warga yang terjebak di dalam rumah, terutama lansia dan anak-anak,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Drs. H. Achmad Taufik, M.Si.
2. Logistik Menembus Banjir
Bukan sekadar memantau, Bupati Tangerang bersama tim BPBD terjun langsung membelah genangan air. Misi utamanya: Memastikan dapur umum tetap mengepul.
-
Status Logistik: 50% bantuan dasar (makanan, selimut, dan obat-obatan) sudah mendarat di titik-titik pengungsian.
-
Titik Aman: Kantor desa dan kelurahan kini disulap menjadi tempat bernaung bagi warga yang rumahnya tak lagi bisa ditempati.
3. Kabar Baik dari Wilayah Lain
Meski Kosambi masih berjuang, secercah harapan muncul dari wilayah lain. Wilayah seperti Pasar Kemis (Gelam Jaya), Mauk, dan Tigaraksa yang sebelumnya tergenang, dilaporkan mulai menunjukkan tren surut.
“Di kecamatan lain, kondisi relatif terkendali seperti tahun-tahun sebelumnya. Fokus utama kita saat ini adalah penanganan pascabanjir dan pemulihan di Kosambi,” tambah Achmad Taufik.
Komitmen “Siap Siaga” 24 Jam
Pemerintah Kabupaten Tangerang tidak ingin kecolongan. Mengingat awan mendung masih betah menggantung di langit Tangerang, BPBD menyiagakan 14 Pos Komando yang tersebar di seluruh titik strategis.
Pesan Penting untuk Warga:
-
Gerakan Sapu Bersih: Jangan tunggu banjir datang; bersihkan saluran air dari sumbatan sampah sekarang juga.
-
Solidaritas Tetangga: Budaya “bahu-membahu” menjadi kunci utama agar tidak ada korban jiwa.
-
Darurat: Segera hubungi posko terdekat jika debit air mulai memasuki rumah.
“Pemerintah siap hadir. Kami tidak akan membiarkan masyarakat berjuang sendirian di tengah bencana ini,” pungkas Taufik dengan nada tegas.
(Der/San)


Tinggalkan Balasan