TANGERANGBERKABAR.ID – Proyek perluasan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tiara yang berlokasi di Jl. Raya Serang KM 14.5, Desa Talagasari, Kecamatan Cikupa, kini menjadi sorotan tajam warga sekitar. Pengerjaan fondasi yang menggunakan paku bumi tersebut dinilai tidak hanya mengancam keselamatan bangunan, tetapi juga berpotensi merusak fungsi lingkungan hidup di wilayah tersebut.

WhatsApp Image 2026 02 17 at 20.13.23

Berdasarkan pantauan di lapangan, Senin (16/2/2026), selain masalah getaran, warga mengeluhkan adanya aktivitas pembangunan yang dilakukan tepat di atas aliran air. Hal ini memicu kekhawatiran baru akan terjadinya penyumbatan atau pendangkalan saluran yang dapat menyebabkan banjir di area pemukiman warga saat musim hujan tiba.

Ibu Soliat, salah satu warga terdampak, mengaku hidup dalam ketakutan sejak alat berat mulai beroperasi di samping dan depan rumahnya. Posisi huniannya yang kini seolah “terkepung” area konstruksi RSIA Tiara membuatnya khawatir akan risiko kecelakaan kerja atau kerusakan bangunan.

“Rasanya ngeri melihat beko tepat di atas rumah. Setiap kali alat paku bumi atau slender bekerja, getarannya terasa seperti gempa bumi. Saya sampai harus keluar rumah karena trauma dan takut bangunan ini tiba-tiba roboh,” ungkap Ibu Soliat.

Keresahan warga semakin memuncak terkait kebijakan kompensasi. Jika pada proyek tahap pertama setahun lalu warga mengaku tidak mendapat apa-apa, kali ini pihak pengembang hanya memberikan uang tunai sebesar Rp100.000 per rumah.

Warga merasa nilai tersebut tidak sebanding dengan risiko kerusakan dan gangguan yang dialami. Ibu Soliat merasa diperlakukan tidak adil karena besaran kompensasi disamaratakan, padahal rumahnya berada di titik yang paling rentan terkena dampak langsung pengerjaan proyek.

Warga menuntut transparansi dan jaminan hukum dari pihak RSIA Tiara maupun pengembang proyek. Mereka mendesak adanya kesepakatan tertulis yang menyatakan pihak rumah sakit akan bertanggung jawab penuh jika ditemukan keretakan pada rumah warga atau masalah drainase akibat aktivitas proyek.

“Kami juga keberatan jika proyek dikerjakan sampai malam hari. Selain berisik, getarannya membuat kami tidak bisa beristirahat dengan tenang,” tegas warga.

Hingga berita ini diturunkan, warga Rt 013 RW 001 Desa Talagasari masih menunggu itikad baik dari manajemen RSIA Tiara untuk memberikan solusi yang lebih manusiawi dan adil bagi mereka yang tinggal di garis depan pembangunan tersebut.

(Der/San)