TANGERANGBERKABAR.ID – PT Jasa Marga Cabang Jakarta-Tangerang akhirnya membongkar tabir di balik hancurnya aspal dan banjir menahun yang merendam ruas Tol Bitung, khususnya di KM 22 hingga KM 26. Bukan karena kelalaian pemeliharaan semata, Jasa Marga secara spesifik menuding aktivitas proyek pembangunan Paramount Land sebagai penyebab utama karut-marutnya kondisi jalan bebas hambatan tersebut.

Dalam audiensi bersama Aliansi Masyarakat Peduli Pembangunan (AMPP) Tangerang Raya pada Selasa (20/1/2026), pihak Jasa Marga mengungkap fakta mengejutkan. Tomy, perwakilan RO 2 Jasa Marga, menyatakan bahwa pihaknya seolah “disandera” oleh aktivitas proyek Paramount yang tak kunjung usai.
“Penyebab utamanya ya proyek Paramount. Kami belum bisa menggarap pekerjaan permanen di lokasi itu karena lahannya masih tertahan oleh mereka. Bahkan, mereka memperpanjang waktu pengerjaannya,” tegas Tomy.

Kerusakan struktur jalan di titik tersebut telah memicu dampak domino yang menyiksa pengguna jalan. Berdasarkan pantauan di lapangan, kemacetan panjang yang tidak mengenal waktu kini menjadi pemandangan harian.
Antrean kendaraan seringkali mengular hingga berkilo-kilometer akibat pengemudi yang harus melambatkan kendaraan secara ekstrem guna menghindari lubang-lubang dalam dan genangan air. Pada jam sibuk, waktu tempuh yang seharusnya hanya hitungan menit membengkak menjadi berjam-jam, melumpuhkan urat nadi logistik dan mobilitas warga Tangerang menuju Jakarta maupun sebaliknya.
Akibat proyek Paramount yang terus molor, Jasa Marga mengaku hanya bisa melakukan perawatan “darurat” berupa penambalan aspal (patching) dengan personel seadanya. Langkah ini diambil hanya sebagai upaya bertahan agar jalan tetap bisa dilalui, meskipun hasilnya jauh dari kata ideal.
“Aspal yang baru ditambal seringkali kembali hancur dalam hitungan hari karena drainase yang rusak akibat proyek tersebut membuat air meluap ke badan jalan. Ini yang membuat kemacetan tidak pernah usai,” tambah sumber internal Jasa Marga.
AMPP menilai situasi ini sangat merugikan publik secara materil dan imateril. Paramount Land, sebagai pihak yang dituding sebagai pemicu masalah, hingga kini belum memberikan konfirmasi resmi terkait dampak proyek mereka terhadap fasilitas publik.
Berikut adalah poin-poin krusial yang menjadi keluhan utama masyarakat:
-
Banjir Menahun: Diduga akibat sistem pembuangan air proyek yang tidak terintegrasi, membuat air merendam badan jalan setiap kali hujan turun.
-
Kerusakan Jalan Ekstrem: Jalan berlubang dan licin yang mengancam nyawa pengendara.
-
Lumpuhnya Arus Lalu Lintas: Kemacetan parah setiap hari yang merugikan produktivitas dan meningkatkan konsumsi bahan bakar pengguna jalan.
-
Ketidakadilan Tarif: Konsumen tetap membayar tarif tol penuh untuk fasilitas yang rusak dan waktu tempuh yang tidak wajar akibat intervensi proyek swasta.
AMPP mendesak agar ada tindakan tegas dari pemerintah terhadap pengembang yang merugikan kepentingan umum. Jika benar proyek Paramount menjadi penghambat perbaikan fasilitas negara, maka pihak pengembang harus bertanggung jawab penuh atas setiap risiko keselamatan dan kerugian ekonomi yang terjadi di ruas tol tersebut.
(Der)


Tinggalkan Balasan