TANGERANGBERKABAR.ID – Suasana haru dan hangat menyelimuti halaman Pondok Pesantren Nurul Hidayah, yang terletak di Desa Cibogo, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Pada hari itu, ratusan anak yatim piatu menerima santunan dalam sebuah kegiatan kolaboratif yang diselenggarakan oleh pesantren Nurul hidayah bersama Aliansi Mahasiswa Penegak Demokrasi, Yayasan Bantuan Mal PLN, APK3L Tangerang, STN Networking, serta melibatkan sejumlah elemen masyarakat dari wilayah Tangerang Raya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa gotong royong dan kepedulian sosial bisa menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan, khususnya anak-anak yatim piatu yang sedang menjalani pendidikan di pesantren maupun dari lingkungan sekitar.
Acara diawali dengan sambutan dari Abah H. Jajuli, seorang tokoh masyarakat yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap kegiatan sosial dan keagamaan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh panitia, donatur, serta relawan yang telah menginisiasi kegiatan mulia ini.
“Santunan ini bukan hanya bentuk kasih sayang, tapi juga ladang ibadah yang insyaAllah mengalirkan pahala jariyah bagi semua yang terlibat,” ujar Abah Jajuli.
Sambutan kedua disampaikan oleh Ust. Hartono, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah, yang turut menekankan pentingnya keberlanjutan kegiatan sosial semacam ini. “Kami sangat berterima kasih kepada semua donatur. Kegiatan seperti ini perlu dijaga dan dijalankan secara istiqomah, karena menjadi bagian dari upaya memuliakan anak-anak yatim piatu serta mendidik mereka menjadi insan yang tangguh dan berakhlak mulia,” ujarnya.
Dari kalangan mahasiswa, Aziz Patiwara selaku perwakilan Aliansi Mahasiswa Penegak Demokrasi, menyampaikan sambutan yang menggugah semangat. Ia menyatakan kekagumannya atas profesionalitas dan dedikasi panitia serta para relawan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi yang sangat istimewa antara mahasiswa, lembaga sosial, tokoh agama, dan masyarakat luas. Aziz juga menyemangati anak-anak yatim piatu yang hadir dengan meneladani kisah Nabi Muhammad SAW.
“Nabi besar kita pun adalah anak yatim sejak kecil, tapi beliau tumbuh menjadi tokoh besar umat Islam dan pemimpin dunia. Kalian juga bisa hebat*, asal terus semangat belajar dan jangan pernah putus asa,” ujar Aziz penuh semangat.
Yang menarik, dalam kegiatan ini juga hadir sosok pendidik santri putri, Ibu Siti Julaeha, yang memberikan bentuk santunan yang berbeda. Beliau secara khusus memilih untuk menyumbangkan buku-buku bacaan dan pelajaran kepada anak-anak yatim piatu. “Saat ini adalah masa penerimaan siswa baru. Saya percaya bahwa pendidikan adalah bekal paling penting untuk masa depan mereka. Maka, saya ingin memberikan sesuatu yang benar-benar bisa bermanfaat jangka panjang, bukan hanya sesaat,” ungkapnya. Sikap Ibu Siti ini menjadi pengingat bahwa santunan tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga berupa investasi ilmu, sebagai wujud cinta terhadap pendidikan anak-anak yatim.
Acara ditutup dengan doa bersama, pembacaan shalawat, serta penyerahan santunan dan bingkisan secara simbolis kepada anak-anak yatim piatu. Kebahagiaan tampak jelas di wajah mereka yang hadir. Lebih dari sekadar acara sosial, kegiatan ini menciptakan harapan, memperkuat solidaritas, dan menunjukkan bahwa kepedulian masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Kegiatan santunan ini menjadi momentum penting yang membuktikan bahwa sinergi antara mahasiswa, tokoh masyarakat, pesantren, dan lembaga sosial bisa menghadirkan gerakan kebaikan yang berdampak nyata. Semoga menjadi awal dari banyak kegiatan positif lainnya yang terus menyebar di berbagai penjuru negeri.


Tinggalkan Balasan